Tuangtuang: Antara Janji dan Realita Rakyat Makassar

banner 468x60

 

Makassar – Istilah Tuangtuang dalam aksen Okok, bahasa Mangkasara’, bermakna “Tuan-Tuan”. Sebuah panggilan yang dahulu penuh wibawa, namun kini maknanya bergeser seiring berjalannya waktu. Sungguh jauh berbeda jaman dulu dengan jaman sekarang: jika masa lalu dipenuhi pahlawan yang berjuang habis-habisan demi negeri, kini banyak yang hanya menjadi “bahadur kesiangan” – tampil gagah setelah perjuangan selesai.

 

Kecanggihan informasi dan teknologi seharusnya menjadi jembatan kemajuan. Namun sayangnya, tak sedikit kalangan “tuang-tuang” yang justru melenceng, menyalahi janji dan sumpah yang pernah diucapkan di atas kitab suci. Tanggung jawab yang seharusnya menjadi pegawai demi kemaslahatan rakyat dan pembangunan masa depan bangsa, kerap tergantikan oleh kepentingan pribadi dan kelompok.

 

Faktanya berbicara lain: rakyat kini sungguh menderita. Lapangan kerja semakin sempit, tontonan yang beredar minim wawasan budaya lokal, bahan pangan yang dikonsumsi justru banyak berasal dari impor, sementara akses pendidikan pun terasa semakin menjauh bagi mereka yang kurang mampu. Di balik gemerlap julukan “kemajuan”, pendapatan rupiah rakyat makin terbatas, peraturan tumpang tindih, dan masyarakat biasa kerap menjadi sasaran kebijakan yang tak berpihak pada kepentingan mereka.

 

“Pasang ‘toling’ atau kuping dan lihatlah dengan jelas wahai tuang-tuang. Dengarkan suara parau yang keluar dari kerongkongan rakyat, agar kita bisa menyelamatkan dan menyatukan kembali bahtera Makassar sebagai bagian dari tanah air Nusantara,” demikian pesan yang terus bergema dari kalangan masyarakat.

 

Sungguh beragam tutur kata para “tuang-tuang” saat berbicara soal perubahan. Pidato terdengar penuh semangat, terkesan luhur dan mulia. Namun seringkali niat sejatinya hanya bertujuan meraih “kadera” atau kursi kekuasaan. Akibatnya, rakyat harus bersusah payah hanya untuk mendapatkan sejumput nasi yang halal untuk makan sehari-hari.

 

Seharusnya, jika dipercaya menjadi bapak RT, maka uruslah segala keperluan warga dengan tulus. Jika dilantik menjadi RW, layani masyarakat dengan jiwa kekeluargaan. Jika dipercaya menjabat sebagai Lurah, jangan hanya sibuk mengurusi masalah tanah semata. Dan bagi kalian yang disapa “tuang-tuang”, jadilah pelindung dan pelayan sejati rakyat, agar janji yang dibalut sumpah suci benar-benar terwujud membawa kebahagiaan bersama.

 

Kini banyak kaum milenial yang terpaksa mengamen di sepanjang jalan atau bekerja sebagai buruh di tanah kelahirannya sendiri. Hal itu dilakukan hanya untuk menumpas rasa lapar sekaligus membantu orang tua melunasi hutang. “Daripada kami terjerumus menjadi pencuri yang berujung dipenjara, lebih baik kami bekerja keras dan mengamen. Biarmi – begitulah kata kami. Daripada melakukan hal ‘koddalak’ atau perbuatan tercela, kami memilih jalan yang halal meski berat,” ujar salah satu pengamen yang sering berkeliling pusat kota.

 

“Janganlah dikira kami mengemis, jangan disangka kami enggan berusaha. Kami berkarya lewat nyanyian sederhana ini, siapa tahu suatu hari nanti kami berkesempatan mencetak rekaman yang bisa didengar kalian semua, wahai tuang-tuang,” tambahnya.

 

Jelaslah ada perbedaan yang terjal di antara kita. Kalian adalah para “tuang-tuang” yang memegang kendali, sementara kami hanyalah pengamen yang mengandalkan rupiah recehan dan buruh yang mengandalkan tenaga. Karena keterbatasan hidup, kami terpaksa meninggalkan bangku sekolah demi menyambung nyawa.

 

Sessajaki – hanya rasa lelah yang kini terasa menyelimuti langkah kami.

 

BATEKU MI – abbolik kana #KoPigiKeliling

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *