Nasehat Sang Guru Bijak di Tanah Makassar

banner 468x60

Pasang Panrita ri Mangkasara’

 

Nasehat Sang Guru Bijak di Tanah Makassar

 

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan yang terus berubah seiring berjalannya waktu, nasehat-nasehat luhur peninggalan para leluhur dan orang bijak tetap menjadi penunjuk jalan yang tak ternilai harganya. Salah satu nasehat mendalam itu datang dari seorang guru bijak di Makassar, yang disampaikan dalam bahasa Mangkasara’ penuh makna:

 

“Oe, ka antu lipaka, manna poeng lebba’ jai’, kapunna lebba’ kekke’ kabateang ji bate jai’na, manna poeng rijai’ masinai kabataeng ji, manna poeng ritisi ki kabateang ji, manna tengkamma alusu’na kabateang ji. U’rang anjoi!”

 

Artinya: “Hei, sesungguhnya sarung itu, walaupun telah dijahit, kalau pernah robek tetap kentara bekas jahitannya, meskipun dijahit mesin tetap pula kentara, bagaimana pun halusnya disulam, akan tetap kentara bekas jahitannya. Ingatlah, jangan lewati batas!”

 

Nasehat ini terlihat sederhana, seolah hanya berbicara tentang selembar sarung yang robek dan dijahit kembali. Namun di balik kata-katanya yang tenang, tersimpan pesan moral yang sangat dalam bagi setiap insan, terlebih bagi mereka yang memegang amanah, kepercayaan, maupun kedudukan di tengah masyarakat.

 

Sarung ibarat kehidupan, ibarat kepercayaan yang diberikan orang lain kepada kita. Sekali saja kita melangkah keluar dari jalur yang benar, melanggar aturan, menyalahi janji, atau berbuat curang, sekecil apapun perbuatan itu, jejaknya akan tetap ada dan sulit untuk dihapuskan sepenuhnya. Sekalipun kita berusaha menutupinya dengan cara yang paling rapi, menggunakan segala kemampuan dan sarana yang ada, atau bahkan berusaha menyamarkannya dengan hal-hal yang tampak indah, bekas “kerusakan” itu akan tetap terlihat jelas oleh mata yang jeli, dan akan tetap teringat oleh mereka yang pernah memberikan kepercayaan.

 

Hal ini mengingatkan kita bahwa kejujuran, integritas, dan menjaga batas adalah fondasi utama yang tak boleh diganggu gugat. Banyak orang tergoda untuk melangkah melewati batas demi keuntungan sesaat, demi kemewahan yang tak abadi, atau demi kekuasaan yang sifatnya sementara. Mereka berpikir perbuatan itu bisa ditutupi rapat-rapat, tidak akan ada yang tahu, atau bisa diperbaiki kembali seolah tak pernah terjadi apa-apa. Padahal seperti kata peribahasa ini, sekalipun dijahit dengan benang terbaik, dikerjakan dengan alat paling canggih, atau dihias dengan sulaman paling indah, jejak robekan itu takkan pernah hilang sepenuhnya.

 

Nasehat ini juga mengajarkan kita untuk selalu waspada dan rendah hati. Jangan sampai kita merasa sudah terlalu hebat, terlalu berkuasa, atau terlalu pintar sehingga berani melanggar aturan dan melampaui batas kesusilaan serta hukum yang berlaku. Ingatlah selalu, setiap perbuatan pasti ada akibatnya, dan setiap kesalahan pasti akan meninggalkan jejak yang sulit dihapus.

 

Bagi kita semua, baik rakyat biasa maupun pemimpin, nasehat ini menjadi pengingat abadi: jagalah diri agar tak pernah melanggar batas kebenaran dan keadilan. Lebih baik menjaga keutuhan sejak awal, daripada berusaha menambal kerusakan yang pasti akan meninggalkan bekas yang memalukan dan merugikan diri sendiri maupun orang lain.

 

BATEKU MI – Daeng Baji’ #KoPigiKeliling.

Penulis : Zaenal Crs.

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *