BANJARBARU – Kepolisian Daerah Kalimantan Selatan (Polda Kalsel) menggelar rapat koordinasi penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) bersama unsur Forkopimda, TNI, BPBD, serta relawan, Kamis (3/9/2026). Pertemuan ini diselenggarakan sebagai respons atas kebakaran yang belum mereda selama lebih dari sebulan serta dampak kabut asap yang merugikan masyarakat.
Dalam sambutannya, Kapolda Kalsel Irjen Pol. Dr. Rosyanto Yudha Hermawan menekankan perlunya terobosan baru mengingat kendala teknis di lahan gambut yang memperlambat proses pemadaman. Selama ini, upaya konvensional dinilai belum optimal menghadapi api bawah tanah yang suhunya mencapai 160°C.
Untuk mempercepat penanganan, Polda Kalsel menerapkan empat inovasi strategis:
Kolam Portable & Sistem Estapet Air: Penampungan air berantai berkapasitas 12.000 liter setiap 200–250 meter untuk mengatasi keterbatasan sumber air.
Penyuntikan Khusus ke Tanah Gambut: Pipa disisipkan guna menyalurkan air dan cairan pemadam langsung ke lapisan gambut guna mematikan api akar.
Cairan Pemadam Surfaktan Ramah Lingkungan: Hasil riset Bidlabfor Polda Kalsel, campuran ini membentuk busa menahan penguapan hingga 50% dan memutus suplai oksigen. Harga produksi berkisar Rp14.800–Rp18.000 per liter serta hemat air hingga 50%.
Pemantauan Drone Thermal: Memetakan panas secara akurat guna memastikan efektivitas pemadaman.
Uji coba di kawasan Pengayuan dan Guntung Damar menunjukkan hasil positif berupa penurunan suhu tanah drastis dan hilangnya titik asap. Saat ini, bahan baku tambahan sedang didatangkan dari Surabaya dan Jakarta untuk pelaksanaan operasi skala luas di wilayah prioritas: Muara Layuh, Banjarbaru, Kabupaten Banjar, serta Batola.
Polda Kalsel juga akan melaporkan inovasi ini kepada pimpinan Polri dan pemerintah pusat guna mendukung penanganan bencana nasional.
Humas Polda Kalsel
(Koordinator Liputan Kalimantan Selatan: Wahyuddin)










