Wahai Penguasa Negeriku, Ingatlah Rakyat yang Memberimu Kepercayaan

banner 468x60

Wahai Penguasa Negeriku, Ingatlah Rakyat yang Memberimu Kepercayaan

Oleh: Dahlan Sapa

Pimpinan Redaksi Media Online Pena Mitra Bhayangkara & Pena Mitra News

 

KALTIM – Wahai para pemegang tampuk kekuasaan di tanah airku… Ketika tangan rakyat mengangkat kalian ke singgasana jabatan, itu bukanlah berarti pemberian hak istimewa untuk berleha-leha, bukan pula izin untuk berbangga diri atau memanfaatkan kedudukan demi keuntungan pribadi dan golongan. Itu adalah sebuah amanah—beban berat yang diserahkan oleh jutaan jiwa yang berharap akan perlindungan, keadilan, dan kesejahteraan. Kepercayaan yang diberikan rakyat adalah modal dasar berdirinya sebuah pemerintahan yang berwibawa. Tanpa kepercayaan itu, kekuasaan hanyalah senjata kosong yang tidak memiliki makna kemanusiaan.

 

Ingatlah selalu, bahwa kekuasaan itu tidak abadi. Ia adalah titipan yang sewaktu-waktu dapat ditarik kembali oleh pemiliknya yang sejati, yaitu rakyat banyak. Jika amanah ini tidak dijaga dengan penuh kesungguhan, kejujuran, dan tanggung jawab, maka retaklah fondasi persatuan yang telah dibangun bersama. Rakyat menyerahkan nasibnya ke dalam tangan kalian, berharap dipimpin oleh akal budi yang jernih, diayomi oleh hati yang bersih, dan dilindungi oleh keberpihakan yang teguh pada kebenaran. Janganlah pernah menganggap suara rakyat sebagai gangguan, apalagi musuh. Suara mereka adalah cermin yang menampakkan wajah kebijakan yang kalian buat—apakah telah adil atau justru menyimpang jauh dari tujuan luhur perjuangan bangsa.

 

Wahai penguasa, jagalah amanah ini dengan segenap jiwa. Jangan biarkan nafsu kekuasaan membutakan mata hati, sehingga lupa dari mana kalian berasal dan untuk siapa kalian bekerja. Amanah bukan hanya soal menjalankan tugas formal di atas kertas, melainkan menyentuh hati nurani dalam setiap keputusan yang diambil. Ketika rakyat lapar, apakah hati kalian ikut merasakan perihnya? Ketika rakyat tertindas oleh ketidakadilan, apakah telinga kalian masih peka terhadap jeritan itu? Ketika rakyat merintih karena sulitnya hidup, apakah tangan kalian terulur untuk menolong, atau justru menutup rapat pintu kebenaran?

 

Kini, dengarkanlah keluh kesah yang terpendam lama di dada kami: Janganlah kalian memaksa kami belajar berbicara yang tidak senonoh! Janganlah sikap angkuh, kelicikan, serta ketidakpedulian kalian menjadikan kami hilang rasa hormat dan sopan santun. Janganlah keteladanan yang buruk dari kalangan penguasa mematikan budi pekerti bangsa. Ketika kami melihat janji-janji yang diingkari, hukum yang tumpul bagi yang kuat namun tajam bagi yang lemah, serta pembiaran atas ketidakadilan yang terang-terangan, maka di situlah bibit-bibit ketidaksopanan tumbuh subur.

 

Kami berbicara lantang, kadang terasa pedas dan tak enak didengar, bukan karena kami tidak tahu etika. Bukan karena kami kasar atau tidak memiliki tata krama. Tetapi, karena kalianlah yang mengajari kami demikian. Ketika kebenaran disembunyikan di balik kata-kata manis yang kosong, ketika hak diserobot dengan cara yang halus namun mematikan, ketika nurani dibungkam demi kepentingan semu—maka kami terpaksa bicara apa adanya, tanpa topeng, tanpa hiasan kata yang indah namun menipu. Kurangnya teladan dari para pemimpinlah yang seringkali memaksa kami melupakan kesopanan, sebab kami melihat moralitas yang tergerus di depan mata kami sendiri.

 

Kami melihat bagaimana aturan main seringkali dibuat bengkok demi melindungi mereka yang berkuasa dan kaya. Kami merasakan bagaimana janji-janji manis hanyalah bualan sesaat demi meraih dukungan, lalu dilupakan begitu saja saat kekuasaan telah digenggam erat. Kami menyaksikan bagaimana integritas dan kejujuran perlahan terpinggirkan, sementara kepintaran memanipulasi keadaan justru mendapat tempat terhormat. Dari sanalah kami belajar bahwa kadang kebenaran hanya bisa didengar jika disampaikan dengan keras dan berani, meski harus kehilangan kehalusan bahasa.

 

Janganlah kalian menyalahkan rakyat jika lidah kami menjadi tajam dan kata-kata kami tidak lagi berbalut kehalusan budi. Lihatlah ke dalam cermin diri kalian sendiri! Siapakah yang telah mengajarkan gaya hidup yang tidak bermoral? Siapakah yang memberi contoh bahwa hukum bisa ditawar, bahwa kebenaran bisa dibeli, dan bahwa amanah bisa diperjualbelikan? Ketika pemimpin kehilangan etika, maka rakyat pun akan kehilangan rasa hormat. Ketika penguasa kurang menjaga akhlak, maka rakyat pun akan belajar cara bicara yang tidak lagi mengenal kesopanan.

 

Ingatlah wahai penguasa tercinta, bahwa kemuliaan jabatan itu tergantung pada kemuliaan orang yang memegangnya. Kekuasaan yang tidak disertai tanggung jawab moral akan melahirkan kebencian, bukan rasa hormat. Kehadiran kalian di puncak pimpinan seharusnya menjadi mercusuar penerang jalan bagi rakyat, bukan bayang-bayang yang mencekam dan menindas. Janganlah sampai rakyat merasa bahwa penguasa justru menjadi sumber penderitaan dan guru bagi ketidakmoralan di bumi ini.

 

Kami rakyat, tetaplah rakyat yang menginginkan kebaikan bersama. Kami rindu pada masa di mana kepercayaan terjalin erat tanpa keraguan, di mana amanah dijaga dengan suci, di mana komunikasi berjalan lurus tanpa kepura-puraan. Kami ingin tetap berbicara dengan bahasa yang santun, namun kami butuh teladan yang pantas untuk dihormati. Janganlah kalian memaksa kami melupakan akhlak mulia yang telah diajarkan oleh para leluhur kita.

 

Kembalilah pada jalan kebenaran. Jagalah amanah ini dengan segenap jiwa dan raga. Ingatlah selalu bahwa di pundak kalian ada harapan ribuan nyawa, dan di hadapan kalian ada sejarah yang akan mencatat segala perbuatan kalian. Janganlah biarkan kami terbiasa dengan gaya bicara yang kasar dan penuh kecurigaan, karena itu berarti kita telah gagal membangun peradaban yang bermartabat.

 

Rakyat tidak akan pernah berhenti menuntut keadilan. Rakyat tidak akan pernah lupa pada amanah yang pernah diserahkan. Jika kalian lupa, maka sejarah dan hati nurani rakyatlah yang akan mengingatkan kalian dengan cara yang mungkin tidak lagi lembut dan penuh pengertian. Maka, benarkanlah arah kebijakan, pulihkanlah kepercayaan, dan tinggikanlah moralitas kepemimpinan—sehingga kami pun bisa kembali berbicara dengan bahasa yang indah, penuh rasa hormat, dan senantiasa bersatu dalam kebaikan yang abadi.

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *