Zainal Siko : Sang Aktivis Menyuarakan Rakyat Kecil, Tak Pernah Lelah Membela Kaum Tertindas di Kota Daeng
MAKASSAR — Di tengah hiruk-pikuk Kota Daeng, Makassar, di mana dinamika kehidupan masyarakat berjalan beriringan dengan ketimpangan yang kerap terlihat nyata di jalanan, hadir sosok yang tak asing lagi bagi kaum kecil, pedagang kaki lima, serta warga yang kerap merasa suaranya tak pernah didengar oleh kekuasaan. Ia bukan pejabat, bukan pengusaha kaya raya, dan bukan pula orang yang mencari kedudukan. Ia hanyalah seorang penulis sekaligus aktivis yang sepenuh hati menjadikan dirinya pelindung dan pembela mereka yang tertindas. Namanya dikenal luas: Zainal Siko
Selama bertahun-tahun, Zainal Siko senantiasa hadir di tengah masyarakat kecil. Perhatiannya paling besar tertuju pada mereka yang hidup dari berdagang di pinggir jalan — para pedagang kaki lima yang nyaris setiap hari harus menghadapi tekanan, intimidasi, hingga penindasan dari oknum-oknum pemerintah yang seharusnya melindungi, namun justru menjadi pihak yang merugikan. Penggusuran sewenang-wenang, penyitaan barang dagangan, hingga perlakuan tidak manusiawi kerap dialami pedagang kecil itu. Di saat orang lain berpaling atau takut bersuara, Zainal justru tampil paling depan, berdiri tegak menemani mereka, mendengarkan keluh kesah mereka, dan berjuang agar hak-hak mereka tidak diinjak-injak.
Bergaul Rata di Semua Kalangan, Tak Pernah Jauh dari Rakyat Bawah
Keistimewaan Zainal Siko tidak hanya terletak pada keberaniannya bersuara lantang, melainkan pada caranya hidup. Ia tidak menempatkan diri di atas masyarakat, melainkan hidup bersama mereka. Pergaulannya sangat luas, namun hatinya selalu berpihak pada kalangan bawah. Ia nyaman duduk beralas tanah, makan makanan sederhana, dan berbicara dengan bahasa yang dipahami semua orang — tanpa kata-kata berbelit, tanpa gaya bicara yang membedakan status. Di matanya, seorang pedagang sayur di pinggir jalan memiliki kehormatan yang sama dengan seorang pejabat di gedung pemerintahan.
Karena kedekatan yang tulus inilah, setiap kali ada aksi demonstrasi di Kota Makassar, nama Zainal Siko hampir selalu ditunggu. Ia menjadi pembicara yang paling didengarkan. Bukan karena ia pandai berpidato, melainkan karena setiap kata yang diucapkannya lahir dari pengalaman mendengar langsung jeritan hati rakyat. Apa yang ia sampaikan bukanlah rekayasa, bukan kepentingan pihak tertentu, melainkan napas dan harapan orang-orang yang berdiri di sampingnya.
Prinsip Teguh: Tak Akan Berkompromi, Tak Akan Mengkhianati Rakyat
Di dunia aktivisme yang kerap penuh godaan, di mana suara-suara kritis kerap dibungkus dengan janji jabatan, uang, atau kenyamanan hidup, Zainal Siko berdiri di atas prinsip yang tak tergoyahkan: tidak mau berkompromi dan tidak akan menjadi pengkhianat. Ia memegang teguh prinsip itu sejak hari pertama ia turun ke jalan, dan tidak satu pun kekuasaan yang mampu membuatnya memalingkan wajah dari rakyat yang ia bela.
Banyak orang mungkin berpikir, lama-lama ia akan lelah, akan menyerah, atau akan memilih jalan yang lebih nyaman. Namun kenyataannya, ia disebut banyak orang sebagai aktivis yang tidak pernah masuk angin. Artinya: tak tergoyahkan oleh tekanan, tak goyah oleh ancaman, dan tak tergoda oleh iming-iming. Ia tetap Zainal Siko yang dulu — sederhana, lurus, dan teguh pendirian.
Cita-Cita Hidup Sederhana, Harta Terbesar Adalah Kepercayaan Rakyat
Hidup mewah, jabatan bergengsi, rumah besar, kendaraan mewah — hal-hal itu sama sekali tidak menjadi ambisi Zaenal Crs. Ketika orang lain mengejar kekayaan dan kemapanan, cita-citanya hanya satu: hidup sederhana. Baginya, kemewahan yang didapat dengan meninggalkan rakyat, dengan mengkhianati kepercayaan, atau dengan diam melihat penindasan, bukanlah kemenangan, melainkan kehinaan.
Ia tidak mencari pujian, tidak mencari penghargaan resmi. Yang ia cari hanyalah satu hal — agar masyarakat yang tertindas dan ditindas oleh pejabat maupun pengusaha yang sewenang-wenang bisa memiliki tempat untuk bersandar, memiliki suara untuk berbicara, dan memiliki harapan bahwa tidak semua orang akan diam melihat ketidakadilan.
Menjadi Bukti Bahwa Kejujuran Masih Berharga
Di tengah realitas di mana banyak orang berubah setelah dikenal atau diberi kedudukan, Zainal Siko tetap konsisten. Ia tetap berjalan kaki di jalanan Makassar, menyapa pedagang yang ia kenal, mendengarkan keluhan warga, dan siap menjadi wadah aspirasi setiap kali rakyat membutuhkannya. Kepercayaan yang diberikan masyarakat kepadanya bukanlah kebetulan, melainkan buah dari ketulusan yang tak pernah dijual.
Zainal Siko adalah bukti nyata bahwa seseorang bisa tetap berharga bukan dari seberapa banyak hartanya, melainkan dari seberapa tulus ia melayani mereka yang lemah. Ia adalah cermin bagi siapa saja yang ingin memahami makna kehadiran seorang penulis dan aktivis: bukan untuk menulis demi kekuasaan, melainkan menulis dan berjuang agar kekuasaan tidak sewenang-wenang menindas rakyat kecil.
Selama masih ada pedagang kaki lima yang digusur tanpa solusi, warga yang ditindas tanpa alasan, dan suara rakyat yang diredam — selama itu pula sosok seperti Zainal Siko akan tetap berdiri, lantang bersuara, dan tak akan mundur. Karena baginya, berjuang untuk rakyat bukanlah pekerjaan, melainkan jalan hidup yang tak akan pernah ia tinggalkan.
#KoPigiKeliling – berkabar berita, berbagi hidup.
Redaksi Media Online Pena Mitra Bhayangkara.com & Pena Mitra News.com










