Bripda Muhammad Putra Aulia: Bukti Pangkat Bukan Penghalang Berinovasi Demi Ketahanan Pangan & Green Policing

banner 468x60

 

JAKARTA, 4 Agustus 2026 — Pangkat bukanlah penghalang untuk terus belajar, meneliti, dan berinovasi. Semangat itulah yang terus didorong Wakapolri Komjen Pol. Prof. Dr. Dedi Prasetyo, S.H., M.Hum., M.Si., M.M. kepada seluruh personel Polri, agar senantiasa mengembangkan kompetensi sesuai bidang keilmuannya dan menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat. Nilai tersebut tercermin nyata pada sosok Bripda Muhammad Putra Aulia, S.Pt., anggota Polri yang memadukan kompetensi akademik, pengalaman profesional di industri, serta dedikasi pengabdian untuk melahirkan inovasi di bidang ketahanan pangan nasional dan Green Policing.

 

Latar Belakang & Kompetensi yang Kokoh

 

Bripda Putra adalah lulusan Program Studi Peternakan UIN Sultan Syarif Kasim Riau dengan predikat Cum Laude dan IPK 3,80. Skripsinya tentang produksi gelatin halal dari kaki ayam menggunakan metode hidrolisis enzim papain menjadi kontribusi nyata bagi pengembangan teknologi hasil ternak dan industri pangan halal. Kini ia tengah menempuh pendidikan Magister Peternakan di Universitas Padjadjaran, meneliti inovasi feed additive berbasis asam amino guna meningkatkan efisiensi pakan dan produktivitas peternakan — langsung menyasar ketahanan pangan nasional.

 

Sebelum bergabung dengan Polri melalui jalur Bintara Kompetensi Khusus, ia memiliki rekam jejak profesional yang mumpuni: pernah menjadi Manajer Peternakan di PT Charoen Pokphand Indonesia yang mengelola hingga 100.000 ekor ayam sekaligus, Manajer Pengendalian Mutu di PT Malindo Feedmill, hingga Tenaga Ahli Jaminan Kualitas dengan penerapan standar HACCP, GMP, BPOM, dan SNI. Pengalaman ini menjadi bekal berharga saat mengabdi di institusi kepolisian.

 

Inovasi Nyata di Tengah Pengabdian

 

Bertugas di Polda Riau, kompetensi akademik dan pengalaman industrinya langsung diubah menjadi solusi konkret. Ia melahirkan Fertiplus Harmoni Hijau, pupuk ramah lingkungan yang telah diproduksi lebih dari 5,2 ton dan didistribusikan ke seluruh jajaran Polres–Polsek Polda Riau guna mendukung program ketahanan pangan. Tak hanya itu, lahir pula Densifur, disinfektan sulfur multifungsi untuk pertanian, peternakan, hingga perikanan. Semua inovasi ini sejalan dengan konsep Green Innovation dalam paradigma Green Policing yang digagas Kapolda Riau Irjen Pol. Herry Heryawan bersama Universitas Riau melalui Pusat Studi Green Policing.

 

Atas prestasinya, Bripda Putra meraih beragam penghargaan, antara lain Satya Mitra Utama, Serdik Terinovatif, serta apresiasi dari Kepala Pusdik Binmas Polri. Karyanya juga disorot media nasional dan bahkan mendapat perhatian langsung dari Wakil Menteri Pertanian.

 

Green Policing: Polisi Modern yang Peduli Lingkungan

 

Kapolda Riau menjelaskan bahwa Green Policing menempatkan perlindungan lingkungan sebagai bagian tak terpisahkan dari pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat. Ancaman seperti kebakaran hutan, pembalakan liar, pencemaran, hingga perubahan iklim tak hanya merusak ekosistem, tetapi memicu konflik sosial dan mengganggu perekonomian. Implementasinya berdiri di atas tiga pilar: pencegahan, penegakan hukum, dan pemulihan, diperkuat budaya organisasi yang hijau. Inovasi Bripda Putra menjadi bukti nyata konsep ini berjalan di tingkat paling dasar.

 

Wakapolri: Siapa Pun Bisa Berinovasi

 

Wakapolri Komjen Pol. Prof. Dr. Dedi Prasetyo menegaskan bahwa transformasi Polri membutuhkan semakin banyak personel yang menyatukan keilmuan dan pengabdian.

 

“Pangkat bukan alasan ataupun penghalang untuk terus mengembangkan diri. Setiap anggota Polri memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, meneliti, berinovasi, dan mengabdikan ilmunya bagi masyarakat.”

 

Bripda Muhammad Putra Aulia menjadi contoh bahwa ilmu pengetahuan yang dimiliki setiap anggota adalah kekuatan institusi sekaligus manfaat nyata bagi rakyat.

 

“Inilah wajah Polri yang ingin kita bangun — anggota yang tidak berhenti belajar, mampu mengembangkan keilmuannya, lalu mengimplementasikannya untuk kepentingan masyarakat. Kompetensi harus menjadi kekuatan dalam mendukung program nasional, mulai dari ketahanan pangan, lingkungan, kesehatan, teknologi, hingga pelayanan publik,” tegas Wakapolri.

 

Untuk memperkuat ekosistem ini, Polri terus memperluas jejaring Pusat Studi Kepolisian di perguruan tinggi — saat ini telah terbentuk 79 pusat studi di seluruh Indonesia — sebagai wadah kolaborasi antara personel, akademisi, peneliti, dan masyarakat. Harapannya, lahir semakin banyak Bhayangkara yang tak hanya andal menjaga keamanan, tetapi juga mampu menciptakan solusi ilmiah bagi kemajuan bangsa.

 

“Kami ingin membangun budaya organisasi yang menghargai ilmu pengetahuan. Siapa pun anggotanya, apa pun pangkatnya, jika memiliki gagasan, riset, dan inovasi yang bermanfaat, harus diberi ruang berkembang. Polri harus menjadi rumah bagi inovasi sekaligus mitra strategis perguruan tinggi dalam melahirkan solusi bagi bangsa,” tutup Wakapolri.

Itulah kisah Bripda Muhammad Putra Aulia — bukti bahwa di Polri, semangat belajar dan berinovasi tidak mengenal pangkat, demi Indonesia yang lebih mandiri, berkelanjutan, dan sejahtera.

 

PMBcom, polri.,”

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *