MANGGARAI, NTT – Di tengah ketakutan dan kesusahan pascagempa yang masih melanda wilayah Kabupaten Manggarai, harapan warga akan bantuan yang datang seringkali menjadi satu-satunya pegangan. Namun kenyataan pahit menyapa warga di Wae Pesi: bantuan yang dinanti-nantikan belum kunjung menyentuh wilayah mereka, memuncak menjadi kekecewaan yang meluap hingga memblokade jalur utama.
Keresahan itu meledak saat rombongan kepolisian yang sedang menuju Posko Reo lewat di wilayah tersebut. Warga berbondong-bondong turun ke jalan dan menghentikan laju kendaraan, tak hanya rombongan Polri tetapi juga sejumlah kendaraan dinas pemerintah yang melintas. Bagi mereka, ini adalah satu-satunya cara agar suara mereka didengar—ketika kebutuhan mendesak dan kabar kapan bantuan tiba tak kunjung datang.
Momen yang berpotensi memicu ketegangan besar justru disikapi dengan kearifan tinggi oleh jajaran Polres Manggarai. Kasi Humas Polres Manggarai AKP Ngurah Saba Nugraha tak memilih memerintahkan pembubaran atau mengambil tindakan represif. Sebaliknya, ia turun langsung dari kendaraan, mendekati warga dengan tenang, dan membuka ruang dialog tanpa sekat.
“Kami memahami betul rasa kecewa masyarakat. Di saat bencana seperti ini, setiap detik terasa berharga dan warga tentu berharap segera mendapatkan perlindungan serta bantuan yang layak. Kami datang bukan untuk berdebat, melainkan untuk mendengarkan apa yang menjadi beban pikiran dan kebutuhan mendesak mereka, sekaligus menjelaskan alur pendistribusian yang sedang berjalan,” ungkap AKP Ngurah Saba Nugraha, Sabtu (22/8).
Satu per satu keluhan warga disimak dengan saksama: soal tenda yang belum ada, persediaan makanan yang menipis, hingga kekhawatiran atas keamanan tempat tinggal sementara. Setelah itu, petugas menjelaskan secara gamblang tahapan penyaluran bantuan, kendala akses yang dihadapi, serta komitmen agar kebutuhan warga Wae Pesi segera dimasukkan dalam daftar prioritas.
Perlahan namun pasti, ketegangan yang sempat membumbung mereda. Warga merasa dihargai karena ada pihak yang bersedia hadir dan mendengarkan, bukan sekadar lewat atau memberi janji kosong. Akhirnya, blokade jalan dibuka secara sukarela, dan rombongan kepolisian dapat melanjutkan perjalanan menuju Posko Reo dengan aman.
Peristiwa ini menjadi pelajaran berharga: di tengah musibah, masyarakat tidak hanya membutuhkan bantuan materi, melainkan juga kepastian, perhatian, dan rasa dihargai. Bagi Polri, kesediaan hadir di tengah rakyat dan mendahulukan komunikasi adalah kunci menjaga kondusivitas sekaligus membuktikan bahwa pengabdian tak hanya terwujud dalam tugas rutin, tetapi juga dalam memeluk erat keresahan saudara yang sedang tertimpa musibah.
PMBcom, Kaltim.,”










