Es Kue: Manis Segar Kenangan Jajanan Rakyat Makassar Era 80–90an

banner 468x60

 

MAKASSAR — Di Kota Makassar, ada satu jajanan rakyat yang menyimpan kenangan manis bagi generasi yang tumbuh pada tahun 1980 hingga 1990-an: Es Kue. Namanya sederhana, namun menyimpan sejarah dan rasa yang tak mudah terlupakan, terutama bagi mereka yang dulu sering berpapasan dengan penjualnya di depan halaman sekolah.

 

Dari asal usul katanya, istilah ini punya akar yang unik. Kata “Es” diambil dari bahasa Belanda “Ijs”, yang berarti air yang telah dibekukan menjadi bentuk padat. Sedangkan “Kue” berasal dari istilah Tionghoa “Hun Kwee”, yang bermakna “hasil panen mereka”. Jika digabung dalam logat Melayu-Makassar, Es Kue bisa dimaknai secara bebas sebagai adonan hasil panen yang telah didinginkan.

 

Dulu, jajanan ini sangat laris manis. Hampir setiap hari, terutama di sekitar lingkungan sekolah, aroma dan tampilannya yang berwarna-warni menjadi daya tarik tak tertahankan bagi anak-anak sekolah.

 

Resep Sederhana yang Menggugah Selera

 

Es Kue dibuat dari bahan-bahan dasar yang mudah didapat namun menghasilkan rasa yang istimewa. Bahan utamanya meliputi: tepung hun kwee, santan kelapa kental atau susu bubuk, gula pasir, sedikit garam, dan pewarna makanan.

 

Cara pembuatannya pun sangat sederhana dan khas buatan rumah:

 

1. Tepung hun kwee dimasak bersamaan dengan gula pasir. Untuk konsumsi keluarga, biasanya ditambahkan santan agar rasanya semakin legit dan gurih.

2. Rebus adonan di atas api kecil hingga mendidih merata.

3. Tuang adonan matang ke dalam loyang besi yang bersih.

4. Tunggu hingga benar-benar dingin dan memadat, lalu iris sesuai selera dan bungkus dengan plastik.

 

Karena teksturnya yang berpori halus seperti busa gabus, Es Kue juga sering disebut sebagai Es Gabus. Meski tampilannya sederhana, rasanya sangat dihargai: manis yang pas, tekstur yang lembut, serta sensasi dingin yang menyegarkan—sangat pas dinikmati saat cuaca di Makassar sedang terik-teriknya.

 

Sebagaimana ungkapan khas yang tertulis: “Mauki minta ki na”—permintaan sederhana yang melekat pada kenangan masa kecil.

 

Manisnya Warisan Budaya Rakyat

 

Penulis K’Enal dalam catatannya menyampaikan pesan yang indah: “Makassar bukan kota orang kasar, ada juga yang manis”. Es Kue adalah bukti kecil namun nyata dari kelembutan rasa dan kearifan lokal kota ini.

 

Catatan kaki yang tertera pada kisah ini menyebut nama Ibu Isnaini Ibrahim di Kota Makassar, salah satu dari sekian banyak tangan yang mungkin pernah meracik kelezatan ini bagi keluarga maupun tetangga.

 

Es Kue bukan sekadar jajanan. Ia adalah potret kehidupan sederhana, cita rasa lokal yang tulus, dan kenangan abadi bagi mereka yang pernah menikmatinya di masa sekolah.

 

#KoPigiKeliling — Berkabar berita, berbagi hidup.

Penulis : Zaenal Siko

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *