Kapal Besar Bernama Indonesia: Antara Harapan dan Kekhawatiran Akan Masa Depan Anak Bangsa

banner 468x60

OPINI PUBLIK

 

Oleh: Dahlan Sapa

Pimpinan Redaksi Media Online Pena Mitra Bhayangkara.com

 

Negara ini ibarat sebuah kapal yang berlayar di samudra luas tanpa tepian. Seharusnya nahkoda dan seluruh awak bersatu padu, memegang kemudi bersama menuju tujuan yang sama: mewujudkan kehidupan yang adil, makmur, dan sejahtera bagi seluruh penumpang yang ada di atasnya. Namun kenyataannya, arah pandang nahkoda kini tak lagi sejalan dengan harapan yang ada di dalam kapal. Penumpang hanya bisa diam seribu bahasa, pasrah ke mana arus dan angin akan membawa perahu besar ini melaju. Begitulah nasib negeri kita tercinta, Indonesia, yang kini dirasakan banyak kalangan seolah kehilangan arah yang pasti.

 

Kekhawatiran itu semakin dalam ketika kita melihat apa yang terjadi pada kekayaan alam yang Tuhan titipkan kepada kita. Dari Morowali yang kaya akan nikel, hutan dan bumi Kalimantan yang subur, hamparan kekayaan Sumatera, tanah Papua yang penuh potensi, hingga kawasan Weda di Maluku Utara—semuanya kini seolah hanya menjadi ladang bagi pihak asing untuk menguras habis isinya. Sumber daya alam yang seharusnya menjadi modal utama kesejahteraan anak bangsa, perlahan diambil tanpa jaminan keberlanjutan. Kita melihat sendiri bagaimana tanah yang dulu subur kini berubah menjadi gundul, sungai yang menjadi sumber kehidupan keruh tercemar limbah, dan ekosistem yang terjaga selama berabad-abad kini hancur dalam waktu singkat.

 

Kami bertanya dalam hati: apa yang akan tersisa nanti saat anak cucu kami bangkit? Apakah mereka hanya akan mewarisi bangkai bumi yang sudah gersang? Tanah yang tak lagi subur, sungai yang tak lagi jernih, hutan yang telah gundul, dan habitat hewan yang telah musnah tak berbekas. Kerusakan itu bukan sekadar soal hilangnya kekayaan materi, melainkan hilangnya hak hidup bagi generasi yang belum lah. Hak untuk mendapatkan udara yang bersih, air yang layak minum, tanah yang bisa ditanami, dan lingkungan yang layak untuk ditinggali—semuanya kini terancam punah akibat keserakahan yang tak terkendali.

 

Di tengah segala kekayaan yang dikuras itu, kita justru disuguhi pemandangan yang memilukan: korupsi merajalela di mana-mana. Mulai dari tingkat desa hingga jabatan tertinggi di pusat, seolah-olah persaingan yang terjadi bukanlah siapa yang paling jujur melayani rakyat, melainkan siapa yang paling pandai mengeruk keuntungan pribadi. Kami sudah lelah, kami sudah bosan menyaksikan perilaku yang tak beradab ini. Bagaimana mungkin negeri ini bisa melangkah maju, jika orang-orang yang diberi amanah justru berlomba-lomba merusaknya? Dana yang seharusnya digunakan untuk membangun fasilitas umum, meningkatkan kualitas pendidikan, dan kesehatan rakyat, justru disalahgunakan untuk memperkaya diri sendiri dan kelompoknya.

 

Yang kami butuhkan sebenarnya sederhana: pemimpin dan pejabat yang memiliki akhlak mulia dan kejujuran yang tak tergoyahkan. Pemimpin yang tidak hanya memikirkan keuntungan sesaat, tetapi memikirkan nasib negeri ini ratusan tahun ke depan. Indonesia bukan lagi milik rakyat pribumi yang berdaulat atas tanahnya sendiri, jika kekayaan alamnya justru dikuasai dan dikuras habis oleh orang asing, sementara pengurusnya diam saja atau bahkan turut mengambil keuntungan. Kita tidak menolak adanya investasi atau kerja sama dengan pihak luar, namun semuanya harus dilakukan dengan aturan yang jelas, menjaga kepentingan nasional, dan tidak merugikan generasi mendatang.

 

Kami tidak menyalahkan siapa-siapa, baik itu yang menjabat pemerintahan maupun yang berwenang di pusat maupun daerah. Kami hanya mengingatkan akan bahaya hancurnya negeri ini jika terus dibiarkan begitu saja. Kami mengingatkan bahwa kekayaan alam yang ada di bumi pertiwi ini bukanlah milik generasi sekarang semata, melainkan titipan Tuhan yang harus dijaga dan diteruskan kepada anak cucu kita dalam keadaan yang lebih baik. Apa yang bisa dipetik anak cucu kita di hari kelak jika sekarang kita habiskan semuanya tanpa sisa?

 

Sekali lagi kami tegaskan, kami tidak pernah menyalahkan siapa yang menjabat atau siapa yang berwenang. Kami hanya ingin agar mereka sadar akan amanah yang dipikulnya, dan segera memberi tindakan yang tegas terhadap segala bentuk pelanggaran dan kesewenang-wenangan yang terjadi. Masih ada waktu untuk kembali ke jalan yang benar. Semoga para pemimpin kita segera sadar, mampu mengarahkan kapal besar ini kembali ke jalur yang tepat, dan menjaga harta titipan ini dengan penuh tanggung jawab.

 

Agar kelak, anak cucu kita tak hanya mendapatkan cerita tentang kekayaan negeri yang hilang, melainkan benar-benar bisa menikmati hasil bumi yang dijaga dengan baik, serta hidup dalam negara yang bermartabat, adil, dan sejahtera untuk selamanya. Semoga suara ini sampai ke telinga mereka yang memegang kendali, dan menjadi pengingat bahwa rakyat selalu mengawasi, dan rakyat selalu berharap yang terbaik untuk Indonesia tercinta.

 

 

PMBcom.,”

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *