Di Balik Peluit dan Senyum: Menyapa Para Penjaga Tertib di Tepian Jalan

banner 468x60

Makassar ~ Di tengah hiruk-pikuk jalanan yang tak pernah sepi, di sela-sela deretan kendaraan yang berjejer rapi menanti giliran atau bersiap melaju, ada sosok yang kerap kita temui. Mereka berdiri tegak di antara deru mesin dan riuh suara, sesekali melambaikan tangan, meniupkan peluit, atau memberi isyarat lincah dengan tangan. Mereka adalah para juru parkir — atau yang akrab disapa “jukir” — yang sering kali menjadi pusat perhatian di ruang publik, namun tak jarang pula disalahpahami oleh sebagian orang yang lewat.

 

Mungkin banyak yang menyangka bahwa pekerjaan juru parkir itu penuh dengan sifat yang berlebih-lebihan dalam bicara, cerewet tanpa alasan yang jelas, seolah-olah setiap kata yang terucap hanyalah pembesar-besarkan hal-hal kecil yang tak berarti. Padahal, anggapan itu keliru sama sekali. Sebenarnya, tugas utama yang mereka lakukan sederhana saja: meniup peluit untuk memberi tanda, mengatur arah kendaraan agar berjalan tertib dan aman. Sering kali ucapan mereka hanyalah kalimat pendek namun penuh makna: “Ya, maju. Betul, mundur.” Itu saja. Bukan untuk mengatur-atur atau memperpanjang omongan tanpa guna, melainkan semata-mata demi menjaga ketertiban, kerapian, dan keselamatan di tempat parkir tempat mereka bertugas setiap hari.

 

Sini Tersenyum — boleh jadi dulu memang ada yang begitu, namun zaman sudah berkembang, cara kerja pun sudah semakin cerdas, teratur, dan penuh kesadaran diri. Sudah tidak seperti yang dibayangkan orang-orang dahulu lagi. Eits! Janganlah marah atau merasa tersinggung mendengar hal itu, sebab apa yang dikatakan di sini hanyalah gambaran semata, bukan bermaksud menyinggung hati siapa pun. Semua ini hanya untuk mengajak kita memandang dengan pandangan yang lebih lapang, lebih ramah, dan lebih menghargai kehadiran sesama.

 

Sini Tersenyum — jika Anda tersenyum ramah saat berpapasan atau berurusan dengan mereka, menyapa dengan sopan dan tidak bersikap sewenang-wenang, boleh jadi Anda justru akan mendapatkan kebaikan yang tak terduga. Bisa jadi ada keringanan tarif parkir, selembar uang lima ratus rupiah lebih sedikit dari biasanya, atau sekadar ucapan tulus “Hati-hati di jalan” yang membuat hati terasa hangat. Tunggu dulu, Nona cantik, jangan terburu-buru menaiki kendaraan dan pergi, biarkan saya bantu sedikit mengatur posisi duduknya. Eh, ternyata sadel motor ini memang sedikit miring ke arah sana, pantas saja terasa kurang nyaman saat dikendarai. Baiklah, sudah pas dan nyaman sekarang. Semoga perjalanan Anda menyenangkan.

 

Sini Tersenyum — mari kita perbesar sedikit suara musik dangdut yang sedang mengalun merdu dari pengeras suara di dekat sana, biar nikmat dan terasa semangatnya. Hidup memang harus berjalan dengan irama yang menyenangkan, bukan? Baiklah, selamat berjalan kembali, pelanggan kami yang baik. Semoga selamat sampai tujuan, dan semoga hari Anda penuh berkah. Sampai jumpa lagi di lain kesempatan.

 

Dan jika ada yang masih merasa kurang puas, atau terlalu banyak menilai tanpa melihat ketulusan di balik peluit dan keringat yang menetes, kiranya cukup kami ucapkan: “Bersiulah merdu, wahai yang merasa paling tahu.” Biarlah setiap orang berpendapat sesuka hatinya, namun kami tetap melangkah dengan senyum tulus, tetap bekerja dengan penuh pengabdian, dan tetap menyapa dunia dengan kebaikan yang sederhana. Karena pada akhirnya, kebaikan yang kita berikan — sekecil apa pun bentuknya — pasti akan kembali kepada kita dengan cara yang indah.

 

#KoPigiKeliling — berkabar berita, berbagi hidup.

 

Zaenal Siko

 

 

 

Apakah artikel ini sudah sesuai harapan Anda, atau ada bagian yang ingin diperhalus lagi?

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *