Sara’dasi — sebuah kata yang terdengar lembut namun menyimpan makna yang begitu dalam dan tajam. Dalam bahasa Bugis–Makassar, kata ini dipahami sebagai fitnah: segala perkataan, berita, atau tuduhan yang tidak berlandaskan pada kenyataan. Sara’dasi adalah kebohongan yang disebarkan dengan sengaja, kabar yang direkayasa, dan kebenaran yang dipelintir — yang kini kita sebut pula dengan sebutan hoaks. Bagi masyarakat Bugis dan kekerabatan Makassar, sara’dasi bukan sekadar kesalahan berbicara, melainkan sebuah perbuatan yang mampu merusak kebahagiaan, memutus ikatan kasih, dan menghancurkan janji yang telah tersimpul erat.
Syair dan Makna Lagu Sara’dasi
Dalam syair lagu yang digubah oleh Djauzi Saleh beraliran Pop Dangdut berbahasa Bugis, makna sara’dasi dituangkan begitu menyentuh hati:
Su’kutoni ro cinnaku ri alena
engkasi sara’dasi simata mappolo
taje’puika kasi’ amaseangnga
pura sio’ puli ada jancie
Artinya:
Padahal aku sangat ingin memilikinya, namun fitnah telah menghalangi jalanku. Kenang dan kasihilah diriku ini, sebab janji telah tersimpul erat.
Ulang syair itu kembali:
Taje’puika kasi’ amaseangnga
pura sio’ puli ada jancie
Su’kutoni ro cinnaku ri alena
engkasi sara’dasi simata mappolo
Lalu tertulis janji yang tak pernah diingkari:
Engka janci’ku pura upuada
madosa ladde’ka re’ko ulesseri
iyya minasa’ku minasa ri deceng
sipammase-mase sipu’pureng lino
Artinya:
Ada janji pernah ku ucapkan, sungguh berdosa jika kuingkari. Kuinginkan hanyalah kebaikan, saling mengasihi hingga akhir hayat.
Dan kembali ditegaskan:
Padahal aku sangat ingin memilikinya, namun fitnah telah menghalangi jalanku.
Kisah di Balik Makna Sara’dasi
Syair ini menyimpan sebuah kisah yang hidup di tengah masyarakat Bugis–Makassar sejak lama. Konon, dahulu kala terdapat sepasang pengantin baru yang disambut penuh sanjungan oleh semua orang. Mereka dipuji memiliki begitu banyak persamaan, begitu serasi, begitu pantas bersanding. Kebahagiaan mereka tampak sempurna, seolah tak ada yang mampu memisahkan. Namun pujian itu baru berlangsung sejenak. Tanpa sebab yang jelas, tiba-tiba segalanya berantakan. Pernikahan yang baru saja diresmikan itu akhirnya hanya bertahan semalam.
Mengapa bisa demikian?
Menurut kebiasaan masyarakat Bugis–Makassar masa lalu, setelah pernikahan berlangsung, masing-masing pihak keluarga biasanya menunjuk seseorang yang dipercaya dan diberi amanah untuk mengawal serta menjaga keharmonisan pengantin baru pada hari-hari awal tinggal bersama. Namun sayangnya, justru orang yang dipercaya itulah yang kadang berkhianat. Ia menyebarkan sara’dasi — berita bohong, tuduhan tanpa bukti, perkataan yang mengadu domba. Fitnah itu perlahan-lahan merembes, menanamkan keraguan, memupuk kecurigaan, hingga akhirnya ikatan yang baru saja terjalin erat pun putus.
Itulah kekejaman sara’dasi: datangnya dari orang yang kita percaya, menyebar diam-diam, dan menghancurkan kebahagiaan sebelum sempat berakar kuat.
Ungkapan Bijak yang Tak Pernah Pudar
Di tengah gelombang fitnah yang menghadang, syair ini meninggalkan pesan yang begitu luhur dan menjadi ungkapan bijak yang patut direnungkan sepanjang masa:
“Iyya minasa’ku minasa ri deceng, sipammase-mase sipu’pureng lino”
“Kuinginkan semata-mata kebaikan, saling mengasihi, hingga akhir hayat.”
Itulah hakikat cinta sesungguhnya yang digambarkan dalam Sara’dasi. Bahwa cinta sejati tidak pernah menginginkan keburukan, tidak menyebarkan berita yang tidak benar, dan tidak membiarkan fitnah merusak kebahagiaan orang lain. Cinta sejati menginginkan kebaikan bagi sesama, menjaga kesucian janji, dan tetap setia meski segala rintangan datang menghadang — termasuk rintangan berupa sara’dasi.
Penutup
Lagu Sara’dasi karya Djauzi Saleh bukan sekadar karya seni berbahasa Bugis. Ia adalah cermin budaya yang mengingatkan kita: betapa berbahayanya menyebarkan berita yang tidak benar, betapa luka yang ditimbulkan oleh fitnah, dan betapa mahalnya sebuah janji kesetiaan yang diucapkan di hadapan Tuhan dan manusia.
Sara’dasi bisa menghalangi jalan cinta, namun ia tak pernah mampu memadamkan keinginan tulus untuk saling mengasihi hingga akhir hayat. Selama hati masih teguh pada kebaikan dan mulut tetap dijaga dari kebohongan, maka sara’dasi hanyalah angin yang lewat — tak mampu mematahkan ikatan yang dibangun di atas kejujuran dan kasih.
#KoPigiKeliling — berkabar berita, berbagi hidup..
Penulis : Zaenal Siko.










