” As a sincere personal reflection ”
Bantaeng — Penampilan luar sering kali menjadi jendela pertama yang dilihat mata manusia dalam menilai sosok seseorang. Banyak orang terbiasa dengan pandangan bahwa pakaian yang tampak saleh—berupa gamis rapi, baju Koko sopan, hingga jidat yang tampak hitam bekas sujud—adalah cerminan langsung dari hati yang bersih, perilaku mulia, dan integritas yang tak tergoyahkan. Namun, realitas kehidupan sering kali menyuguhkan fakta yang jauh berbeda dari apa yang terlihat di permukaan. Penampilan yang tampak religius itu tidak selamanya berbanding lurus dengan kesempurnaan jiwa maupun kejujuran dalam bertindak.
Kenyataan yang menyakitkan namun harus diakui adalah bahwa tidak sedikit dari mereka yang berpenampilan demikian yang sebenarnya hanya bersembunyi di balik topeng kesalehan. Pakaian ibadah bagi sebagian orang hanyalah kedok indah yang digunakan untuk menutupi berbagai aib, kesalahan, bahkan kejahatan yang mereka lakukan. Hal ini bahkan menembus kalangan pejabat publik yang seharusnya menjadi teladan. Kita sering melihat mereka tampil dengan penampilan paling agamis, selalu mengenakan busana Koko, memiliki jidat yang tampak tanda rajin beribadah, namun di balik itu semua, tangan mereka ternyata kotor oleh praktik korupsi yang luar biasa. Perilaku yang sangat bertentangan dengan ajaran agama yang mereka tampilkan begitu kental. Korupsi yang dilakukan sedemikian rupa, seolah-olah penampilan saleh itu dapat menjadi tameng yang melindungi mereka dari pandangan masyarakat maupun dari pertanggungjawaban moral dan hukum.
Fenomena ini sungguh memilukan. Manusia memang makhluk yang tidak luput dari khilaf dan salah, namun menjadi sangat berbeda ketika kesalahan itu disembunyikan di balik simbol-simbol kesucian. Hal ini menimbulkan kekecewaan mendalam, karena kepercayaan yang diberikan masyarakat kepada orang yang tampak beragama sering kali disalahgunakan. Agama yang seharusnya menjadi pedoman hidup dan benteng moralitas, justru dimanfaatkan sebagai alat untuk menutupi kebusukan diri dan merampas hak orang lain.
Dalam pandangan yang jujur dan lugas, hal ini menimbulkan sebuah perbandingan yang mungkin terdengar tajam namun menyimpan kebenaran yang pahit: terkadang kita merasa lebih bisa mempercayai seseorang yang dianggap masyarakat biasa-biasa saja atau bahkan tercela—seperti pemabuk—daripada orang yang selalu berpenampilan muslim sempurna namun hidup dalam kepalsuan. Mengapa demikian? Karena orang yang jujur tentang kekurangannya, meskipun ia seorang pemabuk atau disebut preman jalanan, sering kali tidak menyembunyikan siapa dirinya. Apa yang terlihat di luar itulah yang ada di dalamnya. Mereka tidak berusaha menipu orang lain dengan citra kesucian yang tidak mereka miliki. Jika pun mereka memiliki keburukan atau melakukan kesalahan, itu tampak apa adanya, tanpa perlu diselimuti oleh kemunafikan.
Berbeda dengan mereka yang berkedok agama namun berperilaku curang. Mereka berusaha menempatkan diri di posisi yang terhormat, terlihat bijaksana, dan menduduki tempat-tempat yang dianggap terhormat, padahal niat dan perbuatannya penuh tipu daya. Orang seperti inilah yang justru lebih berbahaya. Mereka tidak hanya merugikan secara materi, tetapi juga merusak kepercayaan terhadap nilai-nilai kebaikan dan agama itu sendiri. Sementara itu, sosok yang sering dipandang sebelah mata—seperti anak jalanan atau preman—meskipun mungkin memiliki banyak kekurangan dan dosa dalam hidupnya, namun jika berbicara mengenai kejujuran dan tidak berpura-pura, sering kali terasa lebih tulus dibandingkan kemunafikan yang terselubung di balik jubah keagamaan.
Kita perlu belajar untuk tidak terbuai oleh penampilan semata. Pakaian gamis, baju Koko, maupun jidat yang hitam tidaklah menjamin seseorang adalah manusia yang sempurna atau berintegritas tinggi. Kualitas manusia terukur dari kebenaran dalam hati, kejujuran tindakan, dan keadilan yang ditegakkan, bukan dari seberapa rapi atau religius pakaian yang dikenakan. Jangan sampai kita tertipu oleh kesalehan yang tampak namun kosong isinya. Sebaliknya, mari kita hargai kejujuran yang apa adanya, meskipun datang dari mereka yang tidak memiliki penampilan yang mengesankan di mata dunia. Sebab, pada akhirnya yang terpenting adalah isi hati dan kebenaran yang ditegakkan, bukan seberapa indah kedok yang dipakai untuk menutupi kenyataan.
Manusia memang tempatnya khilaf, namun khilaf yang disertai kepalsuan dan penyamaran jauh lebih berat konsekuensinya daripada kesalahan yang diakui secara terbuka. Semoga kita semua terhindar dari sifat bermuka dua, dan mampu menilai sesama manusia dengan kacamata keadilan serta kebijaksanaan yang sejati.
Sebagai renungan pribadi yang tulus: Saya sendiri belum sempurna. Saya pernah berjuang panjang di jalan hidup yang kelam—pernah menjadi pemabuk, penjudi, bahkan seorang preman. Namun kesadaran tumbuh saat saya berkeluarga; saya sadar pola hidup itu harus diubah sepenuhnya. Saya kemudian menapaki jalan baru menjadi jurnalis dan aktivis, berharap masa lalu yang kelam dapat ditebus dengan upaya membela masyarakat yang tertindas. Saya menyadari sepenuhnya segala kekurangan di masa lalu; kini saya berbenah diri, agar kelak anak-anak saya dapat menjadikan diri saya teladan yang baik.
Penulis: Nasrullah (biasa disapa Bang Tomo)
LSM LIRA Anggota Investigasi Kabupaten Bantaeng
Publikasi: Terbuka










