LANDAK – Pencegahan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) tak hanya mengandalkan kesiapan saat api berkobar, namun butuh pemahaman mendalam terhadap kondisi masyarakat, potensi kerawanan wilayah, pola kejadian serta kekuatan koordinasi antar pemangku kepentingan guna membangun strategi penanggulangan yang lebih efektif. Hal ini menjadi fokus utama Perwira Siswa (Pasis) Pendidikan Reguler Sesko TNI LVI saat melaksanakan kunjungan lanjutan pengambilan data di Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, berlangsung 31 Agustus hingga 1 September 2026.
Kegiatan ini merupakan bagian dari proses pendidikan dan penyusunan kajian strategis. Pengumpulan data dilakukan secara langsung melalui dialog dengan berbagai unsur yang memiliki peran dan pengalaman di wilayah, mulai dari tokoh agama, pemerintah kecamatan hingga perangkat dusun.
Pasis berinteraksi dengan Pendeta Mateos dari GMII selaku tokoh agama setempat. Pertemuan ini menggali peran tokoh agama dalam menumbuhkan kepedulian lingkungan serta mendorong edukasi bahaya pembakaran hutan dan lahan. Pendekatan ini dinilai penting karena pesan pencegahan dapat disampaikan melalui ruang sosial yang dekat dengan masyarakat. Kesadaran tak membakar lahan sembarangan bukan hanya soal hukum dan keamanan, melainkan tanggung jawab bersama menjaga keberlangsungan hidup.
Dari sisi pemerintahan, Pasis berbincang dengan Camat Ngabang, Brian. Diskusi menyasar kondisi dan potensi kerawanan Karhutla di Kecamatan Ngabang, meliputi kesiapsiagaan warga, pola penanganan saat kebakaran, serta mekanisme koordinasi kecamatan dengan pihak terkait. Data ini penting untuk melihat sejauh mana sistem pencegahan dan penanganan berjalan di tingkat wilayah—bukan hanya kemampuan merespons cepat, namun juga deteksi dini sebelum bencana meluas.
Guna mendapatkan gambaran yang lebih nyata, Pasis juga berdialog dengan Kepala Dusun Engkadu, Adrianus. Tingkat dusun memberikan perspektif lapangan mengenai faktor pemicu, pemahaman masyarakat, serta keterlibatan warga dalam mencegah kebakaran. Pendekatan langsung ini penting karena strategi efektif harus berdasar realitas lapangan, bukan hanya perspektif kelembagaan.
Kunjungan ini menegaskan Karhutla memiliki dimensi luas. Pencegahan butuh keterlibatan berkelanjutan dari pemerintah daerah, aparat, TNI, tokoh agama, tokoh masyarakat hingga warga wilayah rawan. Penguatan langkah preventif menjadi kunci: edukasi, peningkatan kepedulian lingkungan, deteksi dini, kesiapsiagaan, pemberdayaan masyarakat serta komunikasi lintas sektor saling berkaitan dalam membangun sistem pencegahan yang kokoh.
Bagi Pasis Sesko TNI LVI, kegiatan ini menjadi sarana melihat langsung bagaimana kebijakan dan konsep penanggulangan berhadapan dengan fakta wilayah. Data dan masukan yang diperoleh akan memperkaya kajian strategis guna mendukung proses pendidikan. Hal ini juga menegaskan keberhasilan pencegahan sangat bergantung pada kesamaan pemahaman dan pola tindakan seluruh pihak. Jika pemerintah, aparat, tokoh dan warga bersinergi, potensi kebakaran dapat ditekan sejak sumbernya.
Hasil pengambilan data diharapkan mampu memberikan gambaran komprehensif karakteristik masalah Karhutla di Landak, serta menjadi dasar perumusan pendekatan penanggulangan yang terpadu, adaptif dan berkelanjutan. Pada akhirnya, menjaga hutan dan lahan bukan tugas satu institusi saja, melainkan tanggung jawab bersama yang butuh kepedulian dan sinergi semua komponen bangsa.
Koordinator Liputan Wilayah Kalimantan Barat: Rustan










