Cincing Banca’: Permainan Tebak Batu yang Menyimpan Sejarah dan Makna Mendalam Masyarakat Makassar

banner 468x60

 

MAKASSAR — Di tengah derasnya arus zaman yang terus berubah dan menyapu segala hal dengan cepat, satu lagi kekayaan budaya leluhur kembali dipanggil untuk hadir, dijaga, dan tak hilang ditelan masa. Nama itu adalah Cincing Banca’, sebuah ungkapan yang berasal dari dialek Lakiung, bahasa Mangkasara’ yang hidup dan tumbuh subur di tengah masyarakat Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan. Kini, Cincing Banca’ bukan sekadar nama sebuah permainan masa lampau yang mulai terlupakan, melainkan juga menjadi simbol yang menyimpan makna mendalam, pesan sejarah, serta nilai-nilai kehidupan yang terus relevan hingga hari ini.

 

Secara asal-usulnya, Cincing Banca’ adalah sebuah permainan tradisional yang sangat digemari oleh anak-anak Makassar pada masa lalu. Bentuk permainannya sederhana namun penuh kegembiraan, yaitu berupa permainan tebak batu. Saat bermain, anak-anak saling mengoper kerakal atau batu kecil dari satu tangan ke tangan lainnya sambil melantunkan nyanyian khas yang berirama indah dan penuh keakraban. Setelah selesai melantunkan nyanyian, mereka saling menebak di tangan siapa batu kecil tersebut tersembunyi. Permainan yang tampak begitu sederhana ini dulunya menjadi hiburan yang menyatukan tawa dan kehangatan, mempererat persaudaraan, serta menjadi momen kebersamaan yang tak terpisahkan dari masa kanak-kanak anak-anak di kampung-kampung Makassar.

 

Namun seiring berjalannya waktu dan perputaran sejarah, Cincing Banca’ turut mengandung makna yang semakin luas dan mendalam, jauh melampaui sekadar permainan anak-anak. Ungkapan itu perlahan menjelma menjadi simbol ikatan yang rusak, ketidaktelitian dalam mengambil keputusan, atau tindakan yang dilakukan tanpa dasar pertimbangan yang matang. Bahkan dalam catatan pergaulan masyarakat tempo dulu, istilah ini kerap dijadikan olok-olokan terhadap kaum penjajah Belanda, yang dianggap bertindak sewenang-wenang tanpa memahami hakikat kebenaran. Tak hanya itu, ungkapan Cincing Banca’ juga sering dijadikan pengandaian ketika seseorang atau sekelompok orang memilih pemimpin secara asal-asalan, tanpa pertimbangan yang cermat, tanpa mengenal karakter dan kemampuan calon yang dipilih — seolah-olah hanya menebak batu di tangan, tanpa tahu dengan pasti apa yang sebenarnya didapat dan akan dihadapi ke depannya.

 

Makna yang terkandung dalam ungkapan Cincing Banca’ pun mengandung peringatan agar setiap orang tidak bersikap sembarangan dalam hal-hal yang penting, terutama dalam memilih pemimpin, mengambil keputusan, maupun menjaga hubungan sesama. Sebagaimana menebak batu yang tersembunyi di balik telapak tangan, jika dilakukan tanpa kejelasan dan pertimbangan yang baik, maka yang didapat belum tentu sesuai harapan, bahkan dapat membawa kerugian dan ketidakharmonisan.

 

Kini, di tengah gempuran budaya asing dan kemajuan teknologi yang perlahan menggeser permainan tradisional, muncul upaya tulus untuk mengenalkan kembali Cincing Banca’ kepada generasi penerus. Langkah ini bukanlah tanpa alasan. Di balik upaya tersebut, tersimpan niat luhur agar anak-anak masa kini tetap memiliki ruang untuk berkreativitas, bermain secara sehat, sekaligus tidak kehilangan akar budaya dan jati diri leluhurnya. Seperti yang disampaikan K’Enal, salah satu tokoh yang peduli pelestarian budaya lokal: “Niat sederhana, agar anak-anak memiliki ruang untuk berkreativitas dan tak kehilangan akar budayanya.”

 

Upaya mengenalkan kembali Cincing Banca’ adalah langkah kecil namun bermakna besar. Melalui permainan sederhana ini, anak-anak tidak hanya diajak bermain dan bergembira, tetapi juga diajak mengenal bahasa, nilai, sejarah, serta kearifan lokal yang dimiliki oleh masyarakat Makassar. Lebih dari itu, ungkapan Cincing Banca’ menjadi pengingat abadi bagi kita semua: janganlah mengambil keputusan atau menentukan pilihan secara asal-asalan bagaikan menebak batu yang tersembunyi. Segala sesuatu hendaknya dipikirkan dengan matang, didasari pengetahuan yang cukup, serta dilandasi kebijaksanaan, agar ikatan tidak menjadi putus, pilihan tidak menjadi keliru, dan masa depan tetap terjaga dengan baik.

 

Cincing Banca’ — sebuah nama, sebuah permainan, dan sebuah pesan luhur yang layak terus dijaga, diwariskan, dan dihayati dari generasi ke generasi, agar kekayaan budaya leluhur tidak hanya menjadi cerita masa lalu, melainkan tetap hidup dan memberi manfaat bagi masa depan anak-anak Makassar dan Indonesia secara keseluruhan.

 

 

 

#KoPigiKeliling — berkabar berita, berbagi hidup.

 

Penulis: Zaenal Siko

 

 

 

Apakah Anda ingin saya menambahkan kutipan tambahan, memperjelas bagian tertentu, atau menyesuaikan gaya bahasanya lebih lanjut?

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *