JAKARTA – Peringatan Hari Juang Polri ke-78 yang jatuh pada 21 Agustus 2026 dengan tema “Dengan Semangat Hari Juang, Polri untuk Masyarakat Menuju Indonesia Maju” menyambut beragam tanggapan dari masyarakat. Jika di satu sisi tema tersebut dinilai sangat mulia dan selaras dengan harapan publik, di sisi lain banyak pihak yang mengingatkan agar semangat ini tidak berhenti hanya pada seremonial belaka, melainkan benar-benar diwujudkan dalam perbaikan kinerja yang terasa langsung oleh setiap lapisan masyarakat.
Suara kritis mulai terdengar dari berbagai penjuru. Banyak warga yang merasa bahwa selama ini pesan-pesan indah dalam setiap peringatan hari besar kepolisian belum sepenuhnya diimbangi dengan perubahan nyata di lapangan. Keluhan yang terus berulang masih menjadi kendala: pelayanan yang dirasa berbelit-belit dan memakan waktu, penanganan laporan masyarakat yang lambat hingga minim kepastian tindak lanjut, serta kesan bahwa kadang kehadiran kepolisian baru terasa saat ada peristiwa besar, namun sulit dijangkau saat rakyat benar-benar membutuhkan bantuan di tengah kesulitan sehari-hari.
“Setiap tahun kita mendengar tema baru, mendengar pidato yang penuh harapan dan janji mulia. Namun saat kami datang melapor atau meminta bantuan, rasanya masih berat. Sering kali kami disuruh bolak-balik, belum ada kepastian kapan masalah kami selesai, atau bahkan seolah tidak diprioritaskan,” ujar salah satu warga yang enggan disebutkan namanya. Ia menambahkan bahwa rasa kecewa ini bukan bermaksud merendahkan pengabdian anggota Polri yang tulus, melainkan harapan agar institusi semakin kuat dan dipercaya.
Masyarakat juga menegaskan bahwa semangat juang sejati tidak cukup hanya diucapkan di atas panggung atau tercetak indah di spanduk. Yang paling dibutuhkan saat ini adalah peningkatan akuntabilitas, transparansi, dan integritas yang terlihat jelas dalam setiap langkah penegakan hukum dan pelayanan publik. Masih banyak kasus yang membuat publik meragukan kewibawaan institusi, mulai dari dugaan ketidakadilan atau pilih kasih dalam menangani perkara, birokrasi yang berbelit tanpa alasan yang jelas, hingga sikap oknum yang kadang terasa kaku, menjaga jarak, atau bahkan tidak memihak pada kebenaran dan kepentingan rakyat kecil.
“Kami tidak butuh slogan yang berjejer rapi saja. Kami butuh bukti nyata: polisi yang adil tanpa pandang bulu siapa kita dan dari mana asalnya, pelayanan yang cepat, mudah, dan tidak memberatkan biaya, serta keberanian tegas untuk membersihkan diri dari oknum yang merusak nama baik institusi. Jangan biarkan tema tahun ini hanya menjadi tulisan di spanduk yang nanti akan diturunkan dan dilupakan begitu saja setelah acara selesai,” tegas warga lainnya.
Selain masyarakat, tanggapan serius juga disampaikan oleh Dahlan Sapa, Pimpinan Redaksi Media Online Pena Mitra Bhayangkara.com dan Pena Mitra News.com. Menurutnya, momen peringatan ini harus menjadi waktu yang tepat bagi pimpinan tertinggi Polri untuk memperkuat pengawasan secara khusus ke jajaran tingkat bawah—mulai dari lingkungan Polres, Polsek, hingga petugas di lapangan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat sehari-hari.
“Banyak hal yang membuat masyarakat kecewa justru bermula dari perilaku oknum di tingkat terdepan ini. Kadang kebijakan di pusat sudah sangat baik dan berpihak pada pelayanan, namun di lapangan pelaksanaannya belum sampai ke tangan warga dengan semestinya. Pengawasan yang ketat, pembinaan berkelanjutan, serta sanksi tegas bagi yang melanggar harus benar-benar diterapkan di setiap tingkatan, bukan hanya di level atas saja,” jelas Dahlan Sapa.
Ia juga menegaskan bahwa masyarakat pada hakikatnya sangat menghargai pengabdian Polri dan tidak membenci institusi kepolisian secara keseluruhan. “Yang sering membuat resah dan kecewa hanyalah oknum yang bertindak sembarangan, yang menutup-nutupi kesalahan, atau yang melayani tidak dengan hati. Jika jajaran di bawah tertib dan berintegritas, maka kepercayaan rakyat akan tumbuh dengan sendirinya,” tambahnya.
Di akhir pernyataannya, masyarakat dan media berharap momen Hari Juang Polri ke-78 ini benar-benar menjadi titik balik perubahan yang berkelanjutan. Polri diharapkan berani mengakui kekurangan yang ada, terbuka menerima kritik, dan bergerak memperbaiki diri secara sungguh-sungguh. Kepercayaan rakyat tidak bisa dibangun hanya dengan kata-kata indah, melainkan harus diperjuangkan setiap hari melalui tindakan yang jujur, tegas, adil, dan selalu mendahulukan kepentingan masyarakat.
Laporan : Redaksi Media Online Pena Mitra Bhayangkara & Pena Mitra News.










