Perjuangan Mengisi Kemerdekaan: Bersatu Melawan Narkotika
Oleh: Brigjen Pol. Dr. Dedy Tabrani, S.I.K., M.Si. (Kepala BNN Provinsi Aceh)
BANDA ACEH — Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI mengingatkan: perjuangan bangsa belum selesai. Jika pendahulu kita berkorban nyawa demi merdeka, tugas generasi kini adalah mengisi kemerdekaan dengan melindungi masyarakat dari ancaman narkotika yang merusak sendi kehidupan bangsa.
Kemerdekaan bukanlah garis akhir, melainkan tanggung jawab besar: menjaga negeri, melindungi rakyat, dan memastikan generasi penerus tumbuh sehat, tangguh, serta mampu mewujudkan Indonesia Emas 2045. Kita tidak lagi berhadapan dengan penjajah bersenjata, namun ancaman yang menggerogoti bangsa dari dalam—salah satunya narkotika.
Narkotika tidak hanya merusak kesehatan, tetapi menghancurkan keluarga, masa depan pemuda, memicu kejahatan, menurunkan produktivitas, dan meruntuhkan ketahanan sosial secara mendasar.
Aceh: Posisi Strategis dan Tantangan yang Dihadapi
Aceh memiliki letak geografis yang sangat strategis—sebuah anugerah bagi ekonomi dan konektivitas, namun sekaligus kerentanan. Garis pantai luas serta kedekatan dengan jalur pelayaran internasional menjadikan wilayah ini sasaran jaringan penyelundupan narkotika.
Fakta lapangan membuktikan hal ini. Data BNN mencatat prevalensi penyalahgunaan narkotika mencapai 2,11% atau sekitar 4,15 juta penduduk Indonesia (2023–2025)—bukan hanya masalah segelintir orang, melainkan ancaman luas.
Di Aceh, serangkaian pengungkapan kasus sepanjang 2026 menegaskan hal tersebut:
– Januari 2026: Gagalkan penyelundupan 100 kg sabu di Aceh Timur, lalu temukan tambahan 60 kg dari jaringan sindikat Golden Triangle.
– Bireuen: Ungkap kasus peredaran 5 kg sabu, kemudian tambah 3 kg pada Juli 2026.
– Menjelang HUT RI: Musnahkan 12 hektare ladang ganja di Nagan Raya; gagalkan 43 kg ganja di Aceh Utara.
Angka-angka ini bukan sekadar laporan: 168 kg sabu yang digagalkan berarti melindungi sekitar 840 ribu jiwa dari bahaya penyalahgunaan—menyelamatkan masa depan anak-anak, keutuhan keluarga, dan harapan generasi muda.
Sekitar 40% narkotika jenis sabu yang masuk ke Indonesia diduga melalui Aceh. Ini bukan stigma, melainkan alarm: Aceh harus menjadi benteng terkuat, bukan wilayah yang rentan.
Jangan Biarkan Putra Daerah Menjadi Alat Kejahatan
Seringkali ditemukan warga Aceh terlibat dalam jaringan narkotika—sebagai kurir, pengedar, atau pelaku lainnya. Hal ini sungguh menyayat hati. Leluhur kita mewariskan kehormatan dan keberanian, tidak pantas jika kita terjebak keuntungan sesaat yang justru mencederai tanah air sendiri.
Ingatlah: narkotika yang beredar akan kembali melukai masyarakat kita sendiri. Jangan biarkan anak muda direkrut, warga dimanfaatkan, atau kita menjadi bagian dari rantai yang menghancurkan masa depan. Musuh terbesar bukan hanya yang datang dari luar, melainkan kejahatan yang tumbuh di tengah lingkungan kita.
Persatuan: Kekuatan Utama Perlawanan
Menghadapi bahaya ini, kita harus menjaga satu hal: persatuan. Kita boleh berbeda pandangan, profesi, atau latar belakang—namun dalam menghadapi narkotika, harus bersatu tekad.
Jangan biarkan kepentingan pribadi atau perbedaan memecah belah. Jaringan narkotika terus bergerak mencari celah; kita harus lebih tangguh. Musuh kita adalah narkotika dan jaringan kejahatannya—bukan sesama anak bangsa.
Saya mengajak seluruh elemen di Aceh: pimpinan daerah, ulama, tokoh agama dan masyarakat, akademisi, pemuda, pendidik, pelaku usaha, media, dan seluruh warga—marilah menyatukan kekuatan. Aceh tidak bisa berjalan sendiri-sendiri.
Peran Vital Ulama dan Tokoh Masyarakat
Aceh memiliki kekuatan besar: pengaruh ulama dan tokoh masyarakat dalam membangun moral dan karakter. Perang melawan narkoba tak cukup hanya dengan penindakan—perlu ketahanan keluarga, pendidikan karakter, penguatan nilai agama dan budaya, serta gotong royong.
Suara agama dan adat harus menjadi benteng pertahanan agar generasi muda tak mudah tergoda. Kita punya modal sosial yang kuat—nilai luhur, budaya, dan semangat kebersamaan—yang harus disatukan demi mewujudkan Aceh Bersinar: wilayah bersih dari narkoba, kuat secara sosial, dan mampu melindungi segenap putra-putrinya.
Penutup: Bersatu Menjaga Kemerdekaan
Pemberantasan narkotika bukan tugas BNN, kepolisian, atau pemerintah semata—ini adalah tanggung jawab kita semua. Jika dulu para pahlawan bersatu meraih kemerdekaan, kini kita harus bersatu menjaganya agar tidak dirampas oleh narkotika.
Bangsa yang kuat bukan yang tanpa ancaman, melainkan yang mampu bersatu menghadapinya. Mari kita jaga Aceh, selamatkan generasi penerus, rapatkan barisan. Karena persatuan adalah kekuatan, dan Aceh harus bersatu melawan narkoba.
PMBcom.,










