Welang Pelang: Doa, Rindu, dan Keindahan Sastra Bugis yang Mengalir Seperti Air

banner 468x60

Welang Pelang: Doa, Rindu, dan Keindahan Sastra Bugis yang Mengalir Seperti Air

Oleh: Zaenal Siko
#KoPigiKeliling – berkabar berita, berbagi hidup

Di tengah riuhnya kehidupan masyarakat di tanah Sulawesi Selatan, masih tersimpan kekayaan budaya yang tak pernah pudar oleh waktu—sebuah ungkapan yang bukan sekadar kata-kata, melainkan gema hati yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Ia adalah Welang Pelang, frasa sederhana dalam dialek Wajo bahasa Bugis, namun menyimpan makna yang begitu dalam, menyentuh sudut terdalam jiwa manusia yang sedang merenungi nasib, memohon petunjuk, dan menyerahkan segalanya kepada Sang Pencipta.

Secara harfiah, Welang Pelang bermakna “masih sendiri”. Namun di balik makna sederhana itu, tersimpan tafsir yang luas: sebuah permohonan tulus kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, agar ditunjukkan jalan kebaikan yang sejati, serta diberikan tempat berlabuh yang tenang dan damai di tengah gelombang kehidupan yang tak terduga. Bagi masyarakat Bugis, frasa ini bukan sekadar ungkapan kesendirian semata, melainkan pesona sastra klasik yang menjadi wadah bagi segala perasaan yang tak sanggup diucapkan dengan kata-kata biasa. Sering pula disebut dalam syair sebagai “Tuo Welang Pelang”, ungkapan ini menjadi jembatan antara batin manusia dengan keagungan Tuhan—tempat di mana doa, pengaduan nasib, dan kepasrahan menyatu menjadi satu.

Welang Pelang hidup dan bernapas dalam irama yang mengalun lembut. Lagu yang mengusung nama ini telah lama menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sosial masyarakat Sulawesi Selatan. Ia lazim didendangkan dengan penuh penghayatan saat pesta pernikahan berlangsung, menjadi pengiring sukacita yang sekaligus mengingatkan manusia akan ketidakpastian dan kebesaran Tuhan. Tak hanya itu, syair ini pun kerap dibawakan dalam berbagai lomba menyanyi tradisional, hingga menjadi irama pengiring tarian adat yang memukau. Setiap kali liriknya dilantunkan, seolah ada cerita lama yang bangkit kembali—cerita tentang rindu, tentang harap, tentang hati yang sedang mencari arah.

Salah satu versi syair Welang Pelang yang paling menyentuh hati berbunyi:

Wasekki kasi’ welang pelang
wasekki kasi’ ro kallolo nabelleangnga
sanreseng nagattungengnga lunra’ warang parang

Engkana denre wija-wija namu giling rewe’ ri benemu
tania kasi’ salakku madoraka ri indo’ ana’mu

Wasekki kasi’ welang pelang ….
lyya rupakku sibawa siri’ku padai rappanna ….
lopi ri tengnga tasi’e mattojang nairi’ anging

Tarona monro sibawa ana’ku
ucapu campa’ gangkanna maraja
namabbiritta ri sumpu lolomu

Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, syair ini bercerita tentang kecewa yang mendalam namun tetap tegar:

Aku kira engkau masih sendiri
aku perkirakan kamu semula perjaka
tak pernah kusangka kau gantung aku kenikmatan harta

Telah lahir anak diantara kita
engkau pun kembali bersama binimu
semua ini bukan salahku
aku sungguh durhaka kepada istrimu

Aku kira engkau masih sendiri ….
Raut wajah beserta malu ini sama halnya
perahu di tengah lautan terayun oleh hembusan angin

Biarlah aku tinggal bersama anakku
aku akan merawatnya hingga dewasa
dan menjauhkannya dari kehidupanmu

Lirik ini begitu indah namun memilukan, menggambarkan perasaan yang terombang-ambing seperti perahu di tengah samudra—tak tentu arah, namun akhirnya menemukan kekuatan untuk melangkah demi harapan masa depan.

Namun Welang Pelang tak hanya bercerita tentang kekecewaan. Ia pun menyimpan makna cinta yang tulus dan rendah hati, sebagaimana tergambar dalam sebuah kalimat puitis lain dalam bahasa Bugis:

“De’na engka upunnarencana mappoji rialemu. Perasaan e ro cumpa cilalena. Siladdeka lo mallupaiki, pele’ wa ngerang ki na pele’ minraleng pappojikku. Paguruka pojiki se engkana narekko maeloki lokka mabela pole iya’ de’ upirasai peddina.”

Artinya begitu menyentuh:
“Aku tidak pernah merencanakan mencintai kamu. Perasaan itu muncul dengan sendirinya. Kian aku berusaha melupakanmu, makin aku mengingatmu dan semakin dalam perasaan cinta itu. Ajari aku mencintaimu sewajarnya, agar aku tidak merasakan sakit saat kamu harus pergi jauh dariku.”

Di sinilah letak keistimewaan Welang Pelang: ia mampu merangkum segala lapisan perasaan manusia—dari harap yang tak terpenuhi, cinta yang tak terduga, hingga kepasrahan yang tenang di hadapan takdir. Ia adalah bukti bahwa budaya luhur masyarakat Bugis bukan hanya tentang keberanian dan ketangguhan, melainkan juga tentang kepekaan hati, penghormatan kepada perasaan, dan keyakinan yang teguh kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Welang Pelang adalah warisan yang tak ternilai harganya. Ia mengajarkan kita untuk tetap rendah hati di tengah kesendirian, untuk memohon petunjuk saat jalan terasa gelap, dan untuk percaya bahwa di setiap ujung perjalanan, pasti ada tempat berlabuh yang disiapkan oleh Allah bagi mereka yang sabar dan berikhtiar. Selama syairnya masih dilantunkan, selama maknanya masih dipahami dan dihayati, maka jiwa budaya Sulawesi Selatan akan terus hidup, mengalir tenang namun kuat, persis seperti arti namanya sendiri: menuju pelabuhan yang damai.

Damai itu indah….

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *