Makassar, Sulawesi Selatan – Di tengah kekayaan kuliner Nusantara yang beraneka ragam, terdapat satu sajian khas dari tanah Gowa yang tak hanya menggugah selera, namun juga menyimpan makna filosofis yang mendalam. Namanya Gogoso’, atau yang lebih populer di telinga masyarakat umum disebut sebagai Gogos. Kata ini sendiri diambil dari dialek Lakiung dalam bahasa Mangkasara’ Gowa, yang secara harfiah berarti “meresap”. Sebuah nama yang sangat pas, mengingat cita rasa dan kehangatan tradisi di baliknya mampu meresap hingga ke sanubari siapa saja yang menikmatinya.
Bahan dan Proses Pembuatan yang Penuh Ketelatenan
Gogoso’ terbuat dari bahan dasar utama beras ketan putih maupun ketan hitam pilihan. Proses pembuatannya pun tidak sekadar dimasak biasa, melainkan dimasak perlahan dengan dicampur santan kelapa segar hingga bumbu dan rasa gurihnya meresap sempurna ke dalam butiran ketan, dan dimasak hingga mencapai tingkat kematangan hampir matang.
Sajian tradisional ini memiliki dua varian utama yang disesuaikan dengan selera, yakni Gogoso’ asli tanpa isi, dan varian berisi yang dalam bahasa setempat disebut “Pakkambu”. Setelah adonan ketan siap, dibungkus rapi menggunakan daun pisang dengan bentuk silinder panjang yang menyerupai lontong. Langkah terakhir yang menjadi kunci keistimewaannya adalah proses pemanggangan di atas bara api tempurung kelapa. Proses ini dilakukan perlahan hingga matang sempurna, memunculkan aroma harum khas daun pisang yang terbakar dan rasa gurih yang khas.
Untuk varian berisi atau Pakkambuna gogosoka yang berarti “isiannya meresap”, isian yang digunakan pun beragam dan kaya rasa. Mulai dari carik-carik ikan tuna yang diolah berbumbu, suwir-suwir daging ayam, hingga srundeng atau parutan kelapa yang telah digoreng kering. Seluruh isian ini sebelumnya dimasak terlebih dahulu dengan bumbu tumis yang kaya rempah, dan umumnya diberi rasa pedas yang pas, selaras dengan selera khas masyarakat kawasan timur Indonesia yang menyukai cita rasa yang kuat dan berani.
Ciri Khas dan Daya Tahan
Secara fisik, Gogoso’ memiliki bentuk silinder memanjang dengan ukuran rata-rata antara 10 hingga 15 sentimeter. Salah satu keunggulan lain dari makanan tradisional ini adalah daya tahannya yang cukup lama, yakni dapat disimpan dan dikonsumsi hingga tujuh hari lamanya tanpa cepat basi, asalkan disimpan di tempat yang sejuk. Hal ini menjadikannya pula sebagai bekal yang andal bagi warga yang hendak bepergian jauh atau bekerja di ladang.
Pendamping yang Tak Terpisahkan dan Makna Filosofis
Di tangan para pedagang, Gogoso’ tak pernah sendirian. Biasanya, penjual turut mendagangkan pendamping khas yang sangat pas disantap bersamanya, yaitu “Bayao kannasa'” atau telur rasa asin, serta telur rebus kecapan tawar. Anda dapat dengan mudah menemukan jajanan ini di pasar-pasar tradisional, di sepanjang jalan raya, hingga tersebar di berbagai kabupaten dan kota di seluruh wilayah Sulawesi Selatan.
Lebih dari sekadar makanan pengganjal lapar, Gogoso’ menyimpan pesan persaudaraan yang indah. Seperti ungkapan bijak K’Enal: “Ketan lengket menyimbolkan eratnya persaudaraan, santan gurih memberi arti kebaikan tulus.” Sebuah filosofi yang mengajak kita untuk senantiasa menjaga kebersamaan yang erat layaknya ketan yang lengket, dan senantiasa berbuat kebaikan dengan tulus layaknya rasa santan yang gurih dan menyejukkan hati.
Gogoso’ bukan sekadar warisan rasa, melainkan cerminan jiwa masyarakat Makassar dan Gowa yang sederhana namun kaya makna, terus dijaga dan dilestarikan hingga kini sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sulawesi Selatan.
#KoPigiKeliling – berkabar berita, berbagi hidup.
Penulis Cerita : Zaenal Siko.










