KUTAI TIMUR – Rasa lelah dan harapan yang tak kunjung terwujud terus menyelimuti masyarakat di sepanjang jalur poros Rantau Pulung menuju Sangatta, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. Sudah bertahun-tahun jalan penghubung vital ini rusak parah, berlubang-lubang, dan berdebu, namun hingga kini belum ada perhatian serius dari pihak berwenang untuk memperbaikinya. Warga pun berharap besar kepada pemerintah daerah untuk segera menurunkan tangan dan menyelesaikan persoalan yang sudah menjadi keluhan bersama ini.
Bagi warga Rantau Pulung, jalan mulus bukan sekadar akses perhubungan, melainkan urusan nyawa, mata pencaharian, dan masa depan generasi mereka. Setiap hari, ribuan warga melintas di jalur ini—mulai dari petani yang membawa hasil bumi ke pasar, pekerja yang berangkat ke lokasi kerja, hingga pelajar yang harus menempuh perjalanan jauh menuju sekolah. Namun kondisi jalan yang rusak membuat perjalanan menjadi sangat sulit, berbahaya, dan memakan waktu jauh lebih lama dari seharusnya.
“Sampai kapan kami harus menunggu? Sudah bertahun-tahun begini, jalan makin parah tapi tak ada perbaikan yang berarti,” ujar salah satu warga yang enggan disebutkan namanya dengan nada kecewa. Ia menambahkan, masyarakat tidak meminta hal-hal yang berlebihan. Harapan mereka sangat sederhana: agar jalur poros Rantau Pulung–Sangatta bisa diperbaiki dan menjadi mulus layaknya jalan raya pada umumnya.
“Kami tidak minta yang lain-lain. Kami hanya berharap perbaikan jalan ini benar-benar menjadi prioritas,” tegasnya. “Kami berharap ada pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kutai Timur yang memiliki hati nurani, rasa empati, dan keberpihakan nyata kepada kami masyarakat yang tinggal di pelosok ini. Di mana hati nuranimu? Di mana kebijakanmu? Di mana perhatianmu terhadap kami yang setiap hari berjuang melewati jalan ini?”
Kondisi jalan yang buruk ini juga menimbulkan kerugian besar bagi perekonomian warga. Biaya perawatan kendaraan meningkat drastis karena sering rusak terkena lubang, sementara harga angkutan barang naik tajam karena pengemudi enggan melintas di jalur tersebut. Tak jarang hasil panen petani rusak sebelum sampai ke pasar akibat guncangan di jalan yang tidak rata. Belum lagi risiko kecelakaan yang terus mengintai, baik bagi pengendara roda dua maupun roda empat.
Warga menyadari bahwa pembangunan daerah tentu memiliki skala prioritas dan keterbatasan anggaran. Namun mereka berpendapat bahwa jalan penghubung antarwilayah ini adalah urusan mendasar yang seharusnya tidak boleh diabaikan terlalu lama. Kehadiran negara harus terasa nyata, bukan hanya dalam janji-janji manis saat masa kampanye, melainkan dalam bentuk tindakan nyata yang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat.
“Kami tetap berharap kepada pejabat Kabupaten Kutai Timur yang berhati mulia untuk benar-benar fokus memperbaiki jalan ini. Dengarkanlah suara kami, lihatlah penderitaan kami setiap hari,” tambah warga lainnya. “Harapan kami hanya satu: jalan Rantau Pulung menuju Sangatta segera diperbaiki agar kami bisa beraktivitas dengan aman, nyaman, dan membawa kesejahteraan bagi keluarga kami.”
Sampai saat ini, belum ada informasi resmi mengenai jadwal perbaikan atau alokasi anggaran khusus untuk pemugaran jalur strategis tersebut. Masyarakat pun terus menunggu dengan sabar namun penuh kekhawatiran, berharap penantian panjang ini tidak berakhir dengan kekecewaan yang sama lagi.
Laporan Kabiro perwakilan Media Online Pena Mitra Bhayangkara & Pena Mitra News Supriadi S.pt.,










